Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar
PONTIANAK // Monitor86.com
Rakyat sudah tak percaya. Udah benci dari ubun-ubun sampai ke mata. Namun, dia kekeh tak mau turun dari tahta. Itulah, sosok Bupati Pati, Sudewo. Simak lagi narasinya sambil seruput kopi, wak!
Rakyat Pati sudah berteriak, sudah membentangkan spanduk, sudah meluapkan amarah di jalan-jalan, bahkan sudah mengirim ribuan surat kilat ke KPK dengan ongkos Rp14.000 per lembar. Tapi apa jawaban sang bupati Pati, Sudewo? Dengan wajah teduh dan nada menyejukkan ala ustaz televisi, ia menjawab, “Saya akan istiqomah, akan amanah membangun Kabupaten Pati.” Seakan-akan demo, makian, dan usulan pemakzulan hanyalah gangguan kecil di tengah jalan menuju nirwana kekuasaan.
Beginilah logika Sudewo. Ketika rakyat menjerit karena Pajak Bumi dan Bangunan dinaikkan 250 persen, ia anggap itu latihan kesabaran massal. Ketika ratusan ASN dimutasi dengan alasan “tidak loyal”, ia menganggap itu kursus kilat tentang keikhlasan. Ketika 220 pegawai rumah sakit dipecat tanpa pesangon, ia menyebutnya sebagai terapi kolektif agar mereka belajar hidup mandiri. Ketika proyek infrastruktur diduga menyimpang, ia justru yakin itu ladang amal jariyah, karena jalan yang bolong akan membuat warga lebih rajin berdoa di perjalanan.
Di depan KPK, Sudewo tak terlihat seperti pejabat yang sedang terpojok, melainkan seorang sufi yang sedang diuji iman. Katanya, ia dipilih rakyat secara demokratis. Karena itu, ia merasa tak pantas mundur hanya karena didemo. Demokrasi, dalam tafsir ala Sudewo, bukanlah soal mendengar aspirasi, melainkan mandat suci sekali seumur hidup. Rakyat boleh berteriak, boleh menuntut, boleh mengarak poster dengan wajahnya dicoret silang merah, tapi ia tetap merasa sah, bahkan lebih sah dari kitab undang-undang.
Pansus DPRD Pati sudah mencatat sederet dugaan pelanggaran, mulai dari mutasi ASN, demosi pejabat, sampai nepotisme yang baunya lebih menyengat daripada bawang merah di pasar pagi. Namun Sudewo tetap tenang. Baginya, semakin banyak pelanggaran yang dituduhkan, semakin ia yakin bahwa dirinya sedang menjalani jalan para nabi, difitnah, dituduh, dimusuhi, tapi tetap tegar. Ia lupa bahwa para nabi memperjuangkan kebenaran, sementara dirinya sedang mempertahankan kursi empuk bupati.
Rakyat pun makin geram. Demo besar-besaran tak hanya jadi ajang teriak, tapi sudah menjelma ritual kolektif yang lebih meriah dari karnaval tujuh belasan. Ada truk towing dijadikan panggung orasi, ada lagu-lagu Iwan Fals diputar, ada posko donasi di tiap kecamatan. Bahkan warga Pati di luar negeri ikut menyumbang untuk ongkos demo. Semua ini demi satu hal, menyingkirkan seorang bupati yang keras kepala dan berlagak suci.
Tapi Sudewo, dengan penuh percaya diri, hanya berkata, “Saya mendukung masyarakat untuk tetap solid.” Kalimat ini begitu absurd, seolah-olah ia adalah pelatih sepak bola yang sedang menyemangati lawan agar lebih kompak mengalahkan dirinya.
Yang lebih konyol, ada tokoh rakyat bernama Ahmad Husein yang tiba-tiba berbalik arah setelah bertemu Sudewo. Dari singa podium, ia menjelma kucing jinak yang mendengkur di pangkuan kekuasaan. Rakyat marah, menyebutnya Sengkuni, menginjak-injak kaos bergambar wajahnya. Namun Sudewo justru tersenyum, seakan pengkhianatan itu hanyalah bonus, bukti bahwa dirinya memang magnet kebenaran.
Inilah filsafat mundur ala Sudewo. Semakin rakyat menderita, semakin ia merasa berhasil. Semakin keras teriakan demo, semakin ia merasa doanya terkabul. Semakin banyak pelanggaran yang ditudingkan, semakin ia merasa sedang naik level spiritual. Bahkan saat ribuan orang menolak, ia tetap mengaku istiqomah. Persis batu karang di tengah ombak, hanya saja batu karang biasanya diam, tidak berbicara dengan penuh percaya diri sambil menepuk dada.
Pada akhirnya, rakyat hanya bisa bertanya, istiqomah untuk siapa? Amanah untuk apa? Jika amanah artinya memeras rakyat dengan pajak mencekik, jika istiqomah artinya menutup telinga dari jeritan publik, maka rakyat Pati benar-benar sedang dipaksa berdoa panjang, bukan untuk keselamatan daerah, tapi untuk kesabaran menghadapi bupati yang lebih keras dari tembok dan lebih tebal dari baja.
Sudewo tetap istiqomah, rakyat tetap istighfar.
Publisher : Krista#camanewak
Social Footer