Breaking News

Iran dan Amerika Sama-sama Didemo oleh Warganya


Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Pontianak — Monitor86.com

Dua negara yang berseteru tiada akhir, kali ini menghadapi nasib sama. Iran dan Amerika Serikat. Dua negara yang segala berbeda itu, sedang menghadapi demonstrasi besar dari rakyatnya sendiri. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dua negara yang sudah puluhan tahun saling melotot seperti kucing rebutan ikan asin, eh sekarang sama-sama sibuk menghadapi demo di halaman rumah sendiri. Ironinya kelas dewa,  demo berjamaah. Bedanya cuma soal menu penderitaan. Di Iran, rakyat turun ke jalan karena ekonomi ambruk, harga sembako naik lebih cepat dari gosip artis, dan mata uang rontok lebih parah dari kepercayaan mahasiswa pada soal pilihan ganda. 

Di Amerika, ribuan orang tumpah ke jalan Minneapolis setelah seorang ibu bernama Renee Nicole Good ditembak mati agen ICE pada 8 Januari 2026. Satu negara ribut karena perut kosong, satu lagi ribut karena peluru yang nyasar ke tubuh seorang perempuan. Sama-sama tragis, cuma bumbunya beda rasa.

Di Iran, Ayatollah Ali Khamenei tampil seperti dosen filsafat senior yang sudah capek tapi tetap galak. Katanya, keluhan ekonomi itu wajar, sah, boleh. Asal jangan sampai ada campur tangan asing. Terjemahan bebas versi warung kopi, “Kalau lapar, silakan teriak, tapi jangan sampai Amerika nimbrung, nanti saya marah.” Kalimat ini terdengar seperti nasihat, tapi baunya lebih mirip ancaman beraroma dupa politik. Sementara itu, dari seberang lautan, Donald Trump langsung angkat megafon geopolitik, mengancam akan menghantam Iran “sangat keras” kalau aparatnya mulai membunuh demonstran. Ini logika luar negeri ala Trump, kalau ada keributan, ancam pakai bom biar kelihatan jantan dan berwibawa.

Ironisnya, di dalam negeri sendiri, Trump mendadak berubah jadi pengacara aparat. Agen ICE yang menembak mati Renee Nicole Good dibela habis-habisan, disebut bertindak membela diri. Kerusuhan? Salah “Radical Left.” Jadi di luar negeri Trump jadi pahlawan demo dan pelindung hak rakyat, tapi di dalam negeri ia jadi tameng aparat bersenjata. Konsistensi? Ah wak, itu barang langka, lebih langka dari harga murah di supermarket Amerika.

Di Iran, demo sudah menelan korban jiwa. Setidaknya dua orang tewas di Lordegan, ribuan ditangkap, dan internet diputus total. Negara ini seolah berkata sopan tapi sadis. “Silakan protes, tapi jangan harap bisa live Instagram atau update status.” Di Amerika, demo menyebar seperti promo diskon akhir tahun, dari Minneapolis ke Chicago, New York, sampai Los Angeles. Wajah Renee Nicole Good ditempel di tiang lampu, di poster, di dinding kota. Di sana, korban jadi ikon, jalanan jadi panggung, dan aparat otomatis jadi antagonis. Dua negara, dua metode, satu hasil: manusia berteriak karena sudah terlalu lama ditelan diam.

Kalau filsuf Yunani kuno masih hidup, mungkin mereka akan mengelus janggut sambil bilang, demo adalah bentuk paling jujur dari manusia yang sudah muak dibohongi. Di Iran, rakyat bosan ditipu angka inflasi dan janji ekonomi yang katanya akan turun dari langit, tapi tak pernah mendarat. Di Amerika, rakyat bosan dengan retorika “keamanan” yang ternyata bisa menembak seorang ibu di depan anak-anaknya. Demo itu teater jalanan, dan pemerintah adalah aktor utama yang selalu lupa dialog, tapi tetap maksa tampil percaya diri.

Akhirnya, kita cuma bisa tertawa getir. Dua negara yang saling ancam rudal ternyata punya penyakit sama, rakyat marah, aparat keras, pemimpin pandai pidato tapi alergi bercermin. Demo di Iran dan Amerika adalah dua bab dari kitab filsafat modern tentang absurditas kekuasaan. Satu bab ditulis dengan tinta inflasi, satu lagi ditulis dengan darah seorang perempuan. Kita, pengopi Koptagul global yang duduk jauh dari panggung, cuma bisa bertepuk tangan pelan sambil bergumam, betapa lucunya dunia, ketika musuh terbesar ternyata sama-sama tak bisa mendengar suara rakyatnya sendiri.

Foto Ai hanya ilustrasi

Publisher : Kris#camanewak

Type and hit Enter to search

Close