Breaking News

Maduro Diculik, Greenland Diincar, Dunia Hanya Bisa Mengecam

Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satu Pena Kalbar

Pontianak — Monitor86.com

Preman dari segala preman, itulah Amerika saat ini. Hanya bisa marah, mengecam, namun tak ada satu pun berani melawan. PBB dengan Dewan Keamanannya saja, tak dianggap oleh Paman Sam. Nasib dunia sudah dikendalikan Trump. American First benar adanya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Siapa pun yang masih percaya dunia ini diatur oleh hukum internasional, mungkin perlu duduk sebentar di warkop terdekat, pesan kopi hitam tanpa gula, lalu membaca berita pelan-pelan. Amerika Serikat menculik Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. China marah. Rusia berang. Amerika Latin ribut. Dunia mengecam. Tapi setelah itu apa? Dunia kembali scroll berita lain. Amerika tetap jalan, dunia tetap mengecam, dan hukum internasional kembali jadi poster motivasi yang digantung miring.

Kita hidup di zaman ketika kecaman internasional bunyinya mirip klakson motor di simpang empat. Ramai, nyaring, tapi tak mengubah arah truk trailer yang sudah ngebut. Amerika itu truknya. Negara lain kebanyakan motor bebek, sebagian lagi sepeda lipat. Mau marah bagaimana pun, hukum fisika global tetap bekerja. Yang besar menabrak, yang kecil menghindar.

China dan Rusia memang marah. Tapi marahnya marah berkelas. Marah diplomatik. Marah dengan jas rapi, pidato dingin, dan kalimat yang penuh kata “mengecam keras”. Tapi tak satu pun langsung berani bilang, “Baik, kalau begitu kami beri sanksi.” Kenapa? Karena menyanksi Amerika itu ibarat memutus listrik satu kota hanya karena tetangga kita berisik. Yang gelap bukan cuma dia, kita ikut gelap.

Amerika bukan cuma negara. Ia sistem. Ia pasar. Ia dolar. Ia SWIFT. Ia kartu kredit yang dipakai belanja dunia. Mau memberi sanksi ke Amerika sama saja dengan menyanksi diri sendiri sambil berharap ekonomi tetap sehat. Itu seperti mogok makan sambil berharap berat badan tetangga yang turun.

Soal Greenland lebih lucu lagi. Trump bilang mau mencaplok. Negara NATO marah. Denmark protes. Tapi tetap saja protesnya sopan, seperti tetangga yang bilang, “Wak, pagar saya jangan diambil ya,” ke orang yang pegang buldoser. NATO ribut, tapi NATO juga bergantung pada Amerika. Ini seperti anak kos marah pada pemilik rumah, tapi tetap bayar listrik ke dia.

Lalu Trump menarik diri dari puluhan organisasi PBB. Dunia geleng-geleng kepala. Tapi PBB sendiri tak bisa berbuat banyak. Dewan Keamanan PBB itu seperti meja rembug keluarga besar, tapi semua paman galaknya punya hak veto. Ketika Amerika bilang “tidak”, rapat pun selesai, palu diketuk, resolusi jadi arsip.

Pertanyaannya, mengapa dunia seperti tak bisa berbuat apa-apa selain mengecam? Karena sistem global memang tidak pernah benar-benar setara. Hukum internasional itu berlaku indah untuk negara kecil, tapi fleksibel untuk negara besar. Ia keras ke lemah, lunak ke kuat. Seperti timbangan pasar yang jarumnya selalu ramah ke pedagang besar.

China dan Rusia sebenarnya bisa melawan, tapi itu berarti eskalasi. Eskalasi artinya risiko perang besar, krisis ekonomi global, dan dunia yang lebih kacau. Maka yang dipilih adalah marah secukupnya, menekan secukupnya, sambil berharap waktu mengubah keadaan. Dunia internasional hari ini lebih suka menunggu sejarah menilai, dari pada mengambil risiko sekarang.

Apakah kecaman itu sia-sia? Tidak sepenuhnya. Kecaman itu seperti catatan dosa. Ia tidak menghentikan pelaku hari ini, tapi ia membentuk ingatan kolektif dunia. Ia memengaruhi legitimasi, membangun narasi, dan perlahan menggeser peta aliansi. Amerika mungkin kuat hari ini, tapi kekuatan tanpa legitimasi itu seperti rumah besar tanpa fondasi moral, kelihatan megah, tapi retaknya pelan-pelan.

Jadi benar, wak. Mereka yang mengecam Amerika memang terlihat tak bisa apa-apa sekarang. Tapi dunia tidak bergerak dengan kecepatan headline. Ia bergerak seperti air sungai, lambat, berliku, tapi dalam jangka panjang bisa mengikis batu sekeras apa pun. Masalahnya, kita sering keburu bosan menunggu sungai bekerja, lalu mengira batu itu abadi.

Selain mengecam, ya berdoa. "Ya Tuhan, hancurkanlah Amerika." Hanya itu bisa dilakukan, lalu ngopi lagi kita. 

Foto Ai hanya ilustrasi


Publisher : Kris#camanewak

Type and hit Enter to search

Close