Breaking News

Prabowo Nego ke Trump, Barang AS 0%, Barang Kita 19%

Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Pontianak — Monitor86.com

Presiden kita, Pak Prabowo ke Amerika lagi. Ketemu Donald Trump untuk nego tarif dagang. Hasilnya, barang masuk dari AS 0%. Sementara barang dari kita, dikenakan tarif 19%. Negara super power dilawan, eheem. Simak narasinya sambil berimaginasi seruput Koptagul nanti, wak!

Washington DC, 19 Februari 2026. Angin dingin menusuk tulang, tapi yang lebih menusuk itu angka-angka di atas kertas. Di jantung kekuasaan Amerika, Presiden Prabowo Subianto menandatangani Agreement on Reciprocal Trade dengan Donald Trump, manusia yang auranya selalu seperti sales mobil bekas berkilau, tapi kuncinya ternyata Gedung Putih. Wahai rakyat Indonesia yang lagi puasa sambil berharap harga cabai turun, inilah takdir dagang kita, barang Amerika masuk ke Indonesia tarif 0%, barang kita masuk ke sana kena 19%. Reciprocal, katanya. Timbal balik. Seimbang. Seperti jungkat-jungkit yang satu duduk di kursi empuk, yang satu lagi menggantung di udara sambil senyum dipaksa.

Dulu Trump mengaum dengan ancaman tarif 32% untuk impor Indonesia. Industri tekstil kita sudah siap-siap pasang spanduk “obral pabrik”, buruh bersiap antre BLT, dan WhatsApp grup keluarga mulai panas. Lalu datanglah negosiasi yang disebut “extraordinary struggle”. Telepon-teleponan lintas benua. Drama diplomasi. Dan… turunlah angka itu jadi 19%. Tepuk tangan? Tahan dulu. Karena di sisi lain, kita buka gerbang selebar runway Bandara Soekarno-Hatta, kedelai AS, jagung AS, gandum AS, LPG AS, crude oil AS, sampai pesawat Boeing masuk tanpa bea. Nol persen. Gratis seperti senyum pramuniaga di mal.

Komitmennya bukan receh. Minimal US$15 miliar untuk energi, US$4,5 miliar produk pertanian, plus 50 jet Boeing, kebanyakan tipe 777, demi menghidupkan Garuda yang napasnya sudah seperti orang habis lari maraton tanpa air mineral. Total MoU yang diteken di Business Summit US Chamber of Commerce? US$38,4 miliar. Kalau dirupiahkan sekitar Rp650 triliun, tergantung kurs lagi mood baik atau sedang PMS. Cakupannya? Mineral kritis, semikonduktor, agribisnis, tekstil, furnitur. Semua dibungkus manis sebagai “implementing agreements”. Implementing apanya? Ya implementing dompet kita, mungkin.

Sekarang mari kita pakai logika warung kopi. Kita kasih akses bebas tarif ke pasar 280 juta penduduk yang doyan impor dan doyan diskon. Sementara ekspor kita seperti sawit, kopi, kakao, nikel hilir, masih kena 19% di sana. Katanya ada pengecualian untuk palm oil, coffee, cocoa yang “tidak bisa diproduksi di AS”. Tapi sisanya? Tetap kena. Nuan bayangkan Trump berdiri di depan kamera, menulis di platform apa pun yang ia pakai hari itu: “Indonesia pays 19%, we pay nothing. Great deal for America!” Rakyatnya bersorak. Sementara kita di sini sibuk membuat infografik bertuliskan “Kemenangan Diplomatik”.

Pemerintah bilang ini sukses karena turun dari 32% ke 19%. Lindungi pekerja. Buka investasi. Menarik modal. Ya, investasi masuk. Tapi kita yang sediakan listriknya, tanahnya, airnya. Kalau untung besar, pajaknya? Kita berharap mereka patuh. Harapan adalah bahan bakar paling murah dalam ekonomi politik.

Ini seperti pergi ke pasar malam. Kita menawar harga, berhasil turun sedikit, lalu disuruh bayar parkir, bayar kantong plastik, bayar ojek pulang, dan traktir penjual makan malam. Bahkan mungkin jadi pelanggan tetap. Atau ini model baru Trump, reciprocal versi “kamu bayar 19%, aku bayar 0%, kita sebut ini persahabatan”. Defisit perdagangan AS dengan Indonesia katanya turun 78%. Hebat. Sementara kita dapat janji transfer teknologi dan equal treatment di mineral kritis, janji yang terdengar seperti trailer film, belum tentu ada sekuelnya.

Prabowo pulang dengan senyum diplomatik. Trump dengan cekikikan khas reality show. Kita? Menghitung triliunan dolar yang akan mengalir ke pembelian “America First”. Ini bukan sekadar deal dagang. Ini opera sabun geopolitik dengan soundtrack patriotik dan ending yang masih misteri.

Yang paling mencengangkan, banyak yang bilang ini sukses besar. Sukses karena kita tidak dihukum lebih berat. Sukses karena neraka tarif 32% dipotong jadi 19%. Kalau ini definisi sukses, saya takut membayangkan definisi gagal. Mungkin kita sudah jadi etalase tetap Boeing, atau cabang kedelai Midwestern. Tahun 2026 ini akan dicatat sebagai tahun ketika kata “reciprocal” dipelintir seindah puisi, tapi terasa seperti kuitansi belanja yang panjangnya melebihi doa buka puasa.

Selamat datang di masterpiece sarkasme geopolitik. Kita tetap optimistis, tentu saja. Karena dalam ekonomi global, yang penting bukan siapa yang bayar lebih mahal, yang penting adalah siapa yang paling piawai menyebutnya kemenangan.

Foto Ai hanya ilustrasi

Publisher : Kris#camanewak

Type and hit Enter to search

Close