Breaking News

Dua Kapal Pertamina Lolos dari Selat Hormuz

Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Pontianak — Monitor86.com

Ini kabar baik. Di tengah perang Iran vs Israel-AS, dua kapal Pertamina lolos dari Selat Hormuz. Alhamdulillah..Cuma, ancaman kenaikan BBM tetap saja masih menganga. Nikmati narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!

Timur Tengah mendidih, rudal beterbangan seperti kembang api versi kiamat kecil, dan para analis geopolitik sibuk tampil di televisi sambil menggambar peta dengan wajah serius. Di tengah kekacauan global itu, tiba-tiba muncul kabar dari Pertamina International Shipping (PIS). Bukan kabar perang baru, bukan juga kabar damai. Kabar tentang dua kapal yang berhasil lolos dari wilayah panas dunia.

Iya, lolos.

Dua kapal itu, yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon dilaporkan berhasil keluar dari kawasan konflik di sekitar Selat Hormuz. Jalur ini bukan sembarang jalur laut. Selat Hormuz adalah kerongkongan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global lewat sana. Kalau tempat itu panas, pasar minyak dunia langsung ikut demam.

Di tengah situasi yang penuh drama geopolitik itu, dua kapal tersebut berhasil menjauh dari wilayah konflik dengan selamat. Seperti adegan film aksi, hanya saja tanpa aktor Hollywood. Yang ada kru kapal tanker dengan radar menyala dan jantung yang mungkin berdetak lebih cepat dari biasanya.

Namun ceritanya tidak berhenti di situ.

Masih ada dua kapal lain milik Pertamina yang belum ikut keluar dari wilayah tersebut. Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro masih berada di Teluk Arab. Mereka bukan lagi santai menikmati angin laut. Mereka sedang menunggu situasi aman sebelum melintasi Selat Hormuz yang saat ini lebih mirip panggung drama geopolitik internasional.

Kalau di jalan tol Indonesia orang emosi karena macet, di Selat Hormuz yang ditunggu bukan lampu hijau. Yang ditunggu adalah situasi yang tidak dipenuhi ancaman kapal perang, drone, atau rudal yang tiba-tiba ingin mencari sensasi.

Dalam siaran pers yang diterbitkan di Jakarta pada Selasa di 10 Maret 2026, Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita menjelaskan, perusahaan melakukan pemantauan intensif selama 24 jam setiap hari secara real time.

Nuan bayangkan ruang kendali penuh layar besar. Titik-titik kapal bergerak di peta digital. Operator menatap layar sambil menghitung jarak aman. Situasinya mungkin mirip pusat kendali misi luar angkasa. Hanya saja objek yang dipantau bukan roket menuju Mars, melainkan kapal tanker yang membawa minyak mentah untuk kebutuhan energi Indonesia.

Kapal Gamsunoro membawa minyak milik pihak lain. Sementara VLCC Pertamina Pride menjalankan misi pengangkutan minyak mentah jenis light crude oil untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Kata “misi” di sini terdengar sangat heroik. Hampir seperti film mata-mata internasional, hanya saja yang dipertaruhkan bukan rahasia negara, melainkan pasokan energi.

Kabar dua kapal yang berhasil keluar dari kawasan konflik tentu memberi napas lega bagi Indonesia. Setidaknya distribusi energi tidak langsung terganggu oleh situasi panas di Timur Tengah.

Namun di tengah rasa lega itu, muncul satu pertanyaan klasik dari rakyat yang hidupnya akrab dengan pompa bensin, apakah ini berarti harga BBM akan aman?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Selamatnya dua kapal dari kawasan konflik memang kabar baik, tetapi harga BBM tidak ditentukan oleh satu atau dua kapal saja. Harga minyak dunia masih dipengaruhi banyak faktor: konflik geopolitik, spekulasi pasar, produksi negara-negara besar, hingga nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik rawan. Selama kawasan itu masih dipenuhi ketegangan militer, harga minyak global bisa saja melonjak. Jika harga minyak dunia naik, tekanan terhadap anggaran negara juga ikut meningkat karena pemerintah harus mengelola subsidi energi.

Pemerintah dan Pertamina sebenarnya memiliki berbagai skema untuk menjaga pasokan energi tetap stabil. Ada strategi Regular, Alternative, dan Emergency. Terdengar seperti level dalam permainan strategi, tetapi itu adalah upaya nyata untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan meskipun jalur global sedang tidak bersahabat.

Namun strategi secanggih apa pun tetap tidak bisa sepenuhnya mengendalikan harga minyak dunia yang ditentukan oleh dinamika pasar internasional.

Kesimpulannya sederhana tetapi sedikit pahit. Kita boleh lega karena dua kapal Pertamina berhasil lolos dari kawasan panas Selat Hormuz. Kru kapal yang bekerja di tengah situasi genting layak mendapat apresiasi besar karena menjalankan tugas yang tidak ringan.

Akan tetapi urusan harga BBM masih merupakan cerita panjang yang dipengaruhi banyak faktor global. Untuk sementara, kabar ini adalah napas lega bagi keamanan pasokan energi Indonesia. Soal harga di pompa bensin, rakyat mungkin masih harus menunggu bab berikutnya dari drama panjang energi dunia.

Foto Ai hanya ilustrasi

Publisher : Krista#camanewak

Type and hit Enter to search

Close