Breaking News

Kajian MAUNG‑RAJAWALI: Trisula Wedha Adalah Kekuatan Benar, Lurus, Jujur di Hati Rakyat

                   Ket Foto : Ilustrrasi (Ist) 

JAKARTA — Monitor86.com

Warisan pemikiran leluhur Nusantara kembali menjadi rujukan mendalam untuk membaca tanda zaman, khususnya di tengah gejolak sosial dan ketimpangan yang makin terasa. Salah satu petuah agung yang kini kembali dikaji adalah ajaran Trisula Wedha dalam nubuat Jangka Jayabaya. Bukan sekadar gambaran senjata fisik, istilah ini ternyata menyimpan makna filosofis, spiritual, dan sosial yang sangat relevan untuk menyembuhkan apa yang disebut sebagai Zaman Kalabendu atau zaman kehancuran akibat korupsi dan kemunafikan.

Ketua Umum sekaligus Pendiri Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI),Hadysa Prana menguraikan makna mendalam ini dalam sebuah kajian pemikiran budaya dan kebangsaan. Menurutnya, Trisula Wedha sesungguhnya adalah teknologi spiritual yang tersimpan di dalam hati sanubari setiap manusia, berbentuk tiga nilai utama: Benar, Lurus, dan Jujur.

“Trisula ini tidak tajam karena besi, melainkan tajam karena pengetahuan suci dan kesadaran luhur. Jika mayoritas masyarakat mampu mengaktifkan ketiga mata trisula ini dalam kehidupan sehari‑hari, maka sistem yang korup dan pemimpin yang munafik akan runtuh dengan sendirinya. Mereka tak akan punya ruang lagi untuk hidup di tengah masyarakat yang cerdas dan berintegritas,” ungkapnya.  Sabtu (20/06/26).

Secara etimologi, kata Weda berasal dari akar bahasa Sanskerta vid yang berarti mengetahui, pengetahuan suci, atau kebijaksanaan tertinggi. Diserap ke dalam sastra Jawa Kuno, istilah ini melahirkan makna “Tombak Berujung Tiga dari Pengetahuan Suci”. Di mata pujangga Jawa kuno, Weda bukan sekadar kitab suci agama, melainkan ilmu kosmologi, pedoman hidup, dan rahasia alam semesta—ilmu kasunyatan. 

Dalam tradisi kepemimpinan Jawa yang dikenal dengan ajaran Asta Brata, penguasaan ilmu Weda menjadi syarat mutlak bagi seorang pemimpin. Ia wajib memahami hukum alam, mampu membaca tanda‑tanda zaman, serta merasakan penderitaan rakyat terdalam sebelum menetapkan kebijakan. Nilai ini menyatu dengan lambang Trisula sebagai senjata Dewa Siwa—simbol pemusnah kebatilan dan pembersih tatanan yang kotor. 

“Jayabaya ingin menegaskan satu hal penting: kehancuran tatanan lama yang rusak tidak perlu dicapai dengan pertumpahan darah atau kekuatan militer. Kebatilan akan runtuh total oleh kekuatan ilmu pengetahuan, kesadaran ma’rifat, dan keluhuran budi pekerti yang sah di bawah restu Ilahi,” papar Ketua Umum MAUNG‑RAJAWALI. Sabtu (20/06/26).

Hukum keseimbangan alam pun tercermin dalam pepatah kuno: Sing salah bakal seleh. Artinya, siapa pun yang bersalah, akhirnya akan menyerah, jatuh, dan meletakkan kekuasaannya dengan cara yang memalukan. Kejayaan semu mereka akan berubah menjadi penyakit dan kutukan materi bagi diri sendiri maupun keturunannya. Banyak penguasa korup yang akhirnya mengalami tekanan batin luar biasa, depresi, hingga kehilangan kewarasan saat seluruh topeng kemunafikan mereka terbuka lebar di hadapan publik.

Kajian ini ditutup dengan seruan singkat namun bermakna: “Eling lan Waspada” — ingatlah selalu dan tetaplah waspada. Sebab, menurut petuah leluhur, kekuatan perubahan besar itu tidak datang dari luar, melainkan dari kemenangan kebenaran di dalam hati setiap warga bangsa.

 

Publisher : TIM/RED

Penulis : TIM MAUNG+RAJAWALI



Type and hit Enter to search

Close