Ket Foto : ILusstrasi (Ist)
JAKARTA –Monitor86.com
Ketua Umum sekaligus Pendiri Lembaga Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), Hadysa Prana, menyampaikan tafsir mendalam dan penuh makna mengenai hakikat UGA, sebuah konsep waktu dan ketetapan yang sering disalahpahami masyarakat.
"Kekuasaan manusia memiliki batas yang nyata, sedangkan ketetapan Tuhan bersifat mutlak. Angkara murka, keserakahan, dan kelaliman mungkin bisa mendominasi untuk sementara waktu, namun mereka tidak akan pernah mampu menang melawan garis takdir atau titis tulis yang telah digariskan oleh Sang Pencipta," tegas Hady dalam paparannya. Senin (13/07/26).
Ia menambahkan, manusia kerap merasa sangat digdaya ketika berhasil memanipulasi hukum duniawi, memutarbalikkan fakta, bahkan berupaya mengubur lembaran sejarah—seperti terasingnya kisah masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran. Namun semua rekayasa tersebut hanyalah fatamorgana yang tak akan bertahan lama.
"Ketepatan Waktu Alam itulah yang disebut UGA. Semesta bergerak dalam siklus waktu yang presisi. UGA bukan sekadar dongeng atau ramalan kosong, melainkan sebuah cetak biru waktu (timeline) yang menentukan kapan titik balik peradaban akan terjadi," jelasnya.
Dalam kurun waktu tersebut, akan ada momentum ketika alam dan kehendak Ilahi bergerak serentak melakukan pembersihan besar-besaran sesuai dengan Hukum Kebenaran Tertinggi atau Bebener-Benerna Kabener.
"Ketika waktu pembongkaran itu tiba, kekuatan supranatural dan keadilan Ilahi akan bekerja dengan cara yang tak bisa dinalar logika manusia. Segala topeng kepalsuan akan dikelupas tanpa sisa, sejarah yang bengkok akan diluruskan kembali, dan hak yang sempat dirampas paksa akan dikembalikan seutuhnya kepada pemilik aslinya," ungkap pendiri MAUNG dan RAJAWALI ini.
Lebih lanjut, Hady menegaskan bahwa krisis atau kehancuran yang terjadi di momen UGA bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju kelahiran kembali atau reborn.
"Kejayaan yang muncul pasca krisis bukanlah kemegahan fisik berupa takhta, harta, atau kekuasaan yang korup. Melainkan tegaknya kembali harkat, martabat, keluhuran budi pekerti, dan keadilan yang bersumber murni dari kebenaran Ilahi," pungkasnya.
Publisher TIM/RED
Penulis : TIM MAUNG + RAJAWALI
#___________🔱🇮🇩☀️
Ket Foto : ILusstrasi (Ist)


Social Footer